Drama adalah suatu cerita yang diperankan oleh beberapa orang di atas
panggung, dimana mereka mengucapkan dialog langsung atau bisa juga
hanya dengan menirukan suatu tingkah laku tertentu yang jalan ceritanya
dibacakan oleh narator. Kegiatan drama seperti bermain peran, drama
pendek (skit), wayang/boneka, pantomim dan sebagainya merupakan
kesempatan belajar yang sangat berharga bagi anak-anak, karena anak
dapat ikut terlibat secara langsung. Bagaimana metode drama ini dipakai
untuk mengajarkan Firman Tuhan? Bagaimana kita memanfaatkannya untuk
mengajarkan kebenaran Alkitab kepada anak-anak?
Memakai Metode Drama untuk Mengajarkan Firman Tuhan
Metode
drama dapat menjadi salah satu alat yang berguna untuk mengajarkan
kebenaran Firman Tuhan secara unik. Karena sebagaimana dalam teori
belajar, anak akan belajar paling banyak bukan hanya lewat mendengar dan
melihat saja, tapi juga dengan terlibat secara aktif. Oleh karena itu
memerankan dan memperagakan tokoh-tokoh dalam cerita Alkitab adalah cara
yang paling tepat untuk membuat anak-anak aktif. Selain itu ada
beberapa keuntungan-keuntungan lain yang dapat kita ambil dari
menggunakan metode drama, yaitu:
1. Cara
efektif untuk menolong anak belajar konsep-konsep, prinsip prinsip dan
sifat-sifat manusia yang abstrak. Banyak konsep kebenaran abstrak dalam
Alkitab, misalnya kasih, sukacita, iman pengharapan yang sulit diajarkan
kepada anak-anak kalau hanya diterangkan lewat kata-kata saja. Namun
melalui drama konsep-konsep abstrak tsb. dapat dituangkan dan
dipraktekkan dalam bentuk yang lebih konkrit. Cerita-cerita Alkitab
menjadi hidup dan kebenaran Alkitab akan lebih relevan.
2.
Kemampuan anak untuk berkonsentrasi terbatas (15 menit), lebih dari itu
akan sulit. Oleh karena itu mendengarkan satu orang yang berbicara
secara monoton akan membuat anak cepat bosan. Dengan drama anak mendapat
lebih banyak variasi sehingga anak bisa bertahan duduk dan mendengarkan
cerita lebih lama.
3. Dengan mendengar dam
melihat cerita lewat drama anak akan mengingat apa yang diajarkan lebih
baik; apalagi untuk anak-anak yang terlibat langsung dalam memainkan
drama. Ini sekaligus menjadi pengalaman yang mendorong mereka untuk
mempraktekkannya
4. Melalui drama anak akan
mendapatkan kesan emosi yang mendalam karena dengan melihat secara
langsung adegan itu dimainkan anak akan mendapatkan kesan emosi tidak
mudah dilupakan.
5. Bagi anak-anak yang
terlibat dalam memainkan drama, mereka dapat belajar untuk
mengekspresikan emosi-emosi tertentu, tanpa resiko untuk terlibat secara
pribadi karena ia hanya memerankan peran orang lain.
6. Melatih anak untuk berani berdiri didepan umum dan memberikan rasa percaya diri kalau mereka berhasil melakukannya.
7.
Membangun kemampuan kerjasama dalam kelompok, karena di dalam memainkan
drama anak akan harus melihat, mendengarkan, menunggu dan membantu
orang lain agar dia bisa memainkan peranannya dengan baik.
8.
Mendorong anak berkreasi dan mengembangkan talenta yang ada, misalnya
memimpin, berpidato, berakting, dll. Talenta tsb. akan sangat berguna
bagi guru untuk bisa difollow-up untuk mengenal anak lebih baik dan
mengarahkannya dikemudian hari.
Setelah kita memengetahui
keuntungan-keuntungan yang kita bisa dapatkan, maka sekarang kita akan
melihat pengetahuan apa saja yang guru perlu ketahui untuk bisa memakai
metode ini dengan baik? Berikut ini beberapa aspek drama yang perlu kita
perhatikan:
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan oleh guru dalam pementasan drama
Alur Cerita
Sebagai
guru, anda harus benar-benar memahami jalannya cerita dari satu adegan
ke adegan berikutnya, sehingga dapat memberikan pengarahan yang benar
kepada anak-anak.
Waktu
Alokasi waktu
harus diatur dengan baik untuk setiap adegan, agar setiap adegan tidak
menyerap waktu terlalu banyak. Untuk itu koordinasikan dengan seksi
acara agar anda memiliki kejelasan waktu yang disediakan oleh panitia
untuk pementasan drama tsb. Jika ternyata drama tsb. terlalu panjang,
anda dapat memotongnya sesuai waktu yang disediakan panitia.
Penokohan
Pilihlah
anak-anak yang memiliki kemampuan (menghafal dan berakting) dan
keberanian untuk menjadi pemeran utama, yang harus mengucapkan dialog.
Namun demikian anda jangan mengabaikan anak anak yang pemalu. Mereka
tetap dapat diikutsertakan dalam drama sebagai pemeran pembantu atau
figuran yang tidak perlu mengucapkan banyak kata-kata.
Setting Panggung
Penataan
panggung ini dapat disesuaikan dengan besarnya pangguna Untuk panggung
yang besar dan luas, maka bisa ditata sedemikian rupa sesuai dengan
adegan-adegan dalam naskah (dua atau tiga latar belakang). Namun untuk
panggung yang tidak besar, pangguna dapat ditata dalam tiap babak. Untuk
model seperti ini harus ada petugas khusus yang dapat mengosongkan dan
menata perlengkapan yang diperlukan dengan cepat untuk adegan
berikutnya.
Kostum Pemain
Sedapat
mungkin sediakan kostum yang sesuai dengan cerita untuk menambah semarak
pementasan cerita. Kostum dapat dibuat sendiri dengan cara melipat kain
menjadi dua, lalu diberi lobang secukupnya di tengah agar kepala bisa
masuk. Jahitlah bagian bawah lengan dan samping kiri kanannya.
Guntinglah kain untuk ikat pinggang dengan lebar 7 cm dan panjang 120
cm. Dan buatlah kerudung untuk laki-laki dan untuk perempuan. Untuk
malaikat gunakan kain putih, untuk laki-laki gunakan kain bergaris,
untuk perempuan gunakan kain polos berwarna muda. Agar lebih jelas lihat
pada Buku Pintar Sekolah Minggu I, terbitan Yayasan Gandum Mas, halaman
141.
Musik Pengiring
Iringan musik
dapat digunakan untuk mendukung suasana dalam setiap adegan dan setiap
babak. Untuk itu persiapkan musik pengiring yang sesuai dengan semangat
setiap adegan. Untuk suasana gembira gunakanlah musik yang riang. Untuk
suasana yang syahdu gunakan alunan musik yang lembut. Apabila tidak ada
musik pengiring, anda dapat meminta beberapa anak untuk menyanyikan
beberapa lagu pujian yang lembut untuk mengiringi pergantian tiap-tiap
babak dalam drama.
Lighting
Lighting
juga dapat digunakan untuk mendukung suasana. Anda bisa menggunakan spot
light dengan aneka warna. Namun apabila tidak ada spot light, anda
dapat menggunakan bolam aneka warna yang ditata sedemikian rupa,
sehingga anda dapat mengatur warna lampu yang diinginkan dalam setiap
babak. Tentunya harus ada seorang operator yang mengatur hal ini. Namun
demikian drama tetap bisa dilangsungkan dengan lampu yang ada, kemudian
pada saat pergantian antar babak, lampu di atas panggung dimatikan.
Sound System
Sediakan
sound system yang memadai, dan beberapa mikrofon di panggung agar anak
tidak perlu berteriak dalam mengucapkan dialognya. Salah satu cara yang
bagus untuk menghindarkan masalah sound system atau anak lupa dialognya
adalah: a. Dengan merekam terlebih dahulu semua dialog dan musik latar
belakang drama ini Pada waktu pementasan para pemain hanya mengikuti dan
melakukan gerakannya saja. b. Dialog drama dibacakan orang lain di
belakag panggung, atau dengan narator. sehingga pemain drama hanya
melakukan gerakan pantomim sesuai dengan cerita tersebut.
Latihan
Usahakan
latihan sebanyak mungkin agar anak semakin mahir dalam melakukannya
(jangan kuatir bahwa anak akan bosan latihan, karena anak suka
mengulang-ulang adegan, khususnya jika mereka senang dengan ceritanya).
Dalam latihan yang perlu diperhatikan:
- latihan menghafal naskah dan urutan-urutan adegan
- latihan suara, khususnya intonasi suara
- latihan ekspresi wajah dan sikap
- latihan akting adegan yang sulit-sulit
Pada
awal latihan sebaiknya ada guru yang memberikan contoh lebih dahulu,
selanjutnya anak menirukannya. Pada akhir latihan adakan gladi resik, di
tempat yang sesungguhnya, termasuk dengan kostumnya dan sound systemnya
supaya anak tidak canggung pada waktu pementasan.
Pada saat
pementasannya, pastikan anak-anak tidak tegang (jika guru tegang
kemungkinan anak akan ikut tegang). Berikan waktu persiapan extra supaya
tidak terburu-buru, khususnya dalam mendandani anak dan memakaikan
kostumnya. Akan lebih baik jika anak sudah siap 10-15 menit sebelum
pementasan. Jika pada pementasan anak lupa dialog/lupa urutan adegan,
maka berikan kata-kata bantuan dari belakang untuk menolongnya mengingat
apa yang harus dilakukan.
sumber : http://belajar-drama.blogspot.com/2009/01/pentingnya-mengetahui-dasar-drama.html
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Desember 2013
opini dan fakta
Pengertian Fakta & Opini
- Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai fakta dan opini.
Dalam dunia informasi sekarang, sering kita dibingungkan apakah suatu
berita itu suatu fakta atau hanya sekedar opini. Sering kali suatu opini
diyakini sebagai fakta. Untuk mengetahui perbedaan antara fakta dan
opini, perhatikan beberapa kalimat yang terdapat kalimat di bawah!
Kalimat opini dibedakan menjadi kalimat opini perorangan dan opini umum. Untuk dapat membedakannya, perhatikan kalimat berikut:
1. Ny. Imin adalah bagian dari warga miskin yang berjumlah 1.031.600 jiwa dari 4 juta penduduk NTB
2. Gambaran kemiskinan ini kian lengkap dilihat dari rumahnya yang berukuran 8X4 meter.
3. “Kalau hujan kami tidur sambil duduk, tidak bisa menggelar tikar karena atap rumah bocor,” ungkap Ny. Imin.
4.
Data kuantitatif itu agaknya tidak nyambung dengan kenyataan hidup Ny.
Musniah warga Dusun Datar, Lombok Barat maupun Ny. Raidah warga Dusun
Karang Bucu, Desa Bagek Polak, Lombok Barat.
5.
Nasib yang harus dihadapi Ny. Imin, Ny. Musniah, Ny. Raidah, dan
lainnya,hendaknya mampu menggunggah pemerintah dan semua kalangan untuk
mengatasi kemiskinan struktural warga pedesaan di NTB.
6. Tak cukup hanya membuat argumentasi lewat angkaangka, yang tak mampu menyelesaikan persolan.
Kalimat 1,2, dan 3 termasuk
kalimat fakta, sedangkan kalimat 4, 5, dan 6 termasuk kalimat opini atau
pendapat. Kata-kata yang bercetak tebal merupakan ciri dari jenis
kalimat tersebut.
Kalimat opini dibedakan menjadi kalimat opini perorangan dan opini umum. Untuk dapat membedakannya, perhatikan kalimat berikut:
1. Menurut para ahli, penduduk Indonesia pada tahun 2010 akan mencapai 300 juta. (Opini perorangan)
2. Menghisap rokok secara berlebihan akan merugikan diri sendiri dan orang lain yang berada di dekatnya. (Opini umum)
Sabtu, 30 November 2013
dialog interaktif
Berikut ini langkah-langkah dalam melakukan dialog interaktif :
Ketika melakukan dialog interaktif baik itu dilayar kaca maupun dialog terbuka ada beberapa teknik jurnalistik yang harus diingat. Sebagai seorang jurnalis yang baik anda harus menjaga pembicaraan agar tetap mengalir dan mengijinkan narasumber untuk menjawab pertanyaan. Kemudian buatlah pertanyaan yang tepat dan juga memancing interaksi yang baik dari narasumber sehingga dilalog berlangsung seru dan tidak kaku.Langkah-langkah dalam memulai dialog interaktif
1. Jelaskan tujuan dari dialog interaktifMulailah menjelaskan maksud dari mengapa dialog interaktif tersebut dilaksanakan. Jelaskan pula mengapa narasumber yang hadir dipilih untuk menjelaskan masalah yang akan diperbincangkan dan apa peran narasumber tersebut dalam permasalahan yang dibahas. Contoh sebagai narasumber dipilihlah pengamat ekonomi dan menteri keuangan dalam membahas kenaikan BBM.
2. Kumpulkan fakta-fakta dan informasi mengenai permasalahan yang akan dibahas terlebih dahulu
Sebagai acuan dalam perbincangan dan juga menjadi bahan pertanyaan yang akan diajukan, maka jurnalis sebaiknya mengumpulkan informasi tentang narasumber baik nama dan gelarnya juga peran yang digelutinya.Mintalah kartu nama agar memudahkan untuk pengejaan nama dan gelarnya juga agar mudah dalam kontak selanjutnya.
3. Mulailah dengan pertanyaan yang menjadi inti permasalahan agar dialog berjalan lancar
Memulai dialog dengan pertanyaan penting terlebih dahulu agar mudah dalam mengembangkan pertanyaan selanjutnya. Dalam memberi pertanyaan anda bisa menggunakan 5W 1 H (apa,siapa,kapan,dimana,mengapa dan bagaimana) sehingga dialog terus mengalir.Dialog akan bertambah hidup jika pernyataan dari satu narasumber berbeda dengan pendapat narasumber lainnya atau sebaliknya. Tugas jurnalis adalah sebagai penengah dan pengarah dalam dialog tersebut.
4. Gunakanlah pertanyaan terbuka
Pertanyaan terbuka dimaksudkan untuk mendapatkan rincian dari permasalahan sekaligus untuk memverifikasi (mencari kebenaran data) yang didapatkan dari riset sebelumnya. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang tidak menghasilkan jawaban ya dan tidak saja , masih ada penjelasan panjang dari pertanyaan yang dilontarkan. Pertanyaan terbuka juga menjadi pertanyaan yang akan mengundang pertanyaan lain.
5. Tanyakanlah bila ada yang terlewatkan atau ingin disampaikan narasumber kepada pemirsa
Jangan lupa menanyakan kepada narasumber apabila ada pesan yang ingin disampaikan ataukah dari dialog tadi ada yang terlupa. Hal ini sangat baik untuk membuat dialog semakin interaktif dan mempunyai makna lebih.
6. Buatlah kesimpulan dari dialog interaktif tersebut
Sebagai penutup, buatlah kesimpulan dari dialog yang terjadi agar pemirsa lebih paham dan mengerti tentang isi dari perbincangan yang dilakukan.
sumber : http://www.kumpulanartikelindonesia.com/search/uraian-dialog-interaktif-tv
Rabu, 27 November 2013
Memahami Musikalisasi Puisi
Tulisan ini sebelumnya berangkat dari makalah dengan judul yang sama, yang disajikan oleh Emong Soewandi pada Seminar Sastra dalam rangka memperingati Hari Chairil Anwar di Universitas Bengkulu, 28 April lalu. Diturunkan kembali di sini dengan beberapa penyesuaian sistematika untuk artikel.Musikalisasi Puisi; Definisi yang Tak-Terdefinisikan
Apa itu musikalisasi telah menimbulkan suasana konflik pengertian atasnya di Bengkulu. Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar dan menerima langsung keluhan beberapa kawan-kawan dan guru-guru, yang berangkat dari ketidakpuasan mereka atas lomba-lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan. Ketidakpuasaan yang kemudian menciptakan konflik ini terjadi, karena adanya perbedaan tentang pengertian musikalisasi puisi antara mereka/peserta dengan dewan juri/panitia.
Realitanya, belum ada definisi musikalisasi puisi yang mutakhir. Bahkan dalam banyak buku-teks sastra tidak mengenal, apalagi pembahasannya tentang musikalisasi puisi. Selain itu, istilah musikalisasi puisi sendiri pun belum disepakati secara umum. Ada beberapa seniman atau sastrawan yang menolak istilah itu. Musikalisasi puisi dipandang sebagai istilah yang kurang tepat dan rancu
Dari kondisi ini, maka dapat saja setiap individu memberikan pengertian yang berbeda-beda tentang konsep musikalisasi puisi. Beberapa situasi pemahaman atas musikalisasi adalah sebagai berikut:
- bahwa dalam musikalisasi puisi tidak boleh ada orang membaca puisi, jika ada pembacaan puisi, maka itu bukan musikalisasi puisi;
- bahwa dalam musikalisasi puisi boleh saja ada orang membaca puisi, sebab tidak semua kata-kata dalam puisi bisa dimusikalisasikan;
- bahwa orang membaca puisi diiringi alat musik bukan musikalisasi puisi; dan
- bahwa orang membaca puisi diiringi alat musik juga merupakan kegiatan musikalisasi puisi
Pertama, bahwa secara etimologi musikalisasi puisi merupakan dua konstruksi yang hampir identik, yakni musik dan puisi. Puisi telah memiliki musik tersendiri (akan dijelaskan kelak), maka mengapa pula lagi harus dimusikalisasikan dengan memberikan unsur musik kepada puisi. Imam Budi Santosa pernah mengusulkan istilah musik puisi, yang tekanannya pada kolaborasi musik dan puisi. Sementara dalam musikalisasi puisi, puisi yang memiliki aturan-aturan dan kaidah-kaidah sendiri dipandang harus tunduk menjadi objek, yang bisa diperlakukan apa saja dalam proses itu.
Kedua, musikalisasi puisi merupakan kegiatan yang bersifat kreatif. Kreatif, artinya gagasan memusikalisasikan puisi didasari oleh dan dari keinginan-keinginan individual bersifat subyektif yang bertujuan untuk kepuasan pribadi. Puisi, selain sebagai karya sastra yang harus diinterpretasikan, juga dapat menjadi medium kreativitas. Sama seperti dramatisasi puisi, yang juga merupakan kegiatan kreatif. Dan ketiga, karena bersifat kreatif, maka musikalisasi puisi pun tidak memiliki kategori-kategori, batasan, atau aturan-aturan yang bersifat mengikat.
Pengertian Musik; Musik Tidak Identik dengan Lagu
Musik (music) sering dipahami sama dengan lagu (song). Berangkat dari pengertian inilah, maka musikalisasi puisi sering terjerumus pada anggapan mengubah sebuah puisi menjadi lagu. Ini jelas kurang tepat, karena musik tidak identik dengan lagu.
Musik yang berasal dari bahasa Inggris, music, (apa padanannya dalam bahasa Indonesia?) secara sederhana memiliki pengertian berirama, suatu susunan bunyi-bunyi bernada yang membentuk sebuah irama tertentu yang harmoni. Sementara pengertian lagu (dari bahasa Arab; al laghwu) lebih ditujukan pada suatu teks yang dengan sengaja dan sadar dinotasikan dengan nada-nada tertentu dan dibentuk oleh melodi.
Tanpa lagu pun sebuah konstruksi musik pun tetap dapat terbangun. Simponi klasik misalnya, secara umum tidak memiliki teks. Demikian juga instrumentalia ala Kitaro, Kenny G., atau Francis Goya sebagian besar juga tidak memiliki teks. Selain itu ada juga nyanyian, seperti nasyid, choral, al chapella, rubaiyah, syair atau gending, yakni lagu yang mengandalkan kemampuan musik alami manusia dan tidak memerlukan alat musik pengiring.
Musik dalam Puisi: Irama, Rima dan Ragam Bunyi Sebagai Unsur Musik dalam Puisi
Satu konvensi dalam menulis puisi yang diikuti penyair adalah kemampuan untuk membangun unsur musik dalam karyanya itu, dalam hal ini irama. Ini sering terlupakan oleh kita dalam kegiatan musikalisasi puisi, bahwa puisi sendiri telah memiliki unsur musik.
Penyair ketika menyusun kata-kata dalam puisinya akan memperhitungkan irama, agar suasana dan makna puisi tersebut dapat tercapai. Tanpa harus mengatakan suasana apa dalam puisi, tetapi dengan mengatur komposisi kata-kata, maka puisi akan dapat membangun suasana.
Menyusun rima salah satunya, adalah satu kegiatan untuk mengatur fisik puisi agar tercipta irama. Kita mengenal dalam puisi ada rima akhir, rima awal, ada asonansi (runtun bunyi-bunyi vokal) dan ada aliterasi (runtun bunyi-bunyi konsonan). Penggunaan kata-kata onomatope juga berfungsi untuk membangun suasana musikal pada puisi. Selain itu ada juga bunyi cachoponi dan euphony yang berfungsi membentuk suasana musikal pada puisi.
Dari penjelaskan di atas, maka selain sama-sama memiliki teks, kesamaan dasar antara puisi dan lagu, yakni sama-sama memiliki unsur musik.. Perbedaannya terletak pada materi dasar pembentukan musik itu. Jika musik pada puisi dibentuk oleh kata dan komposisi kata, maka musik pada lagu dibentuk oleh nada dan melodi.
Hakikat Puisi adalah Pembacaan; Keterbatasan Musikalisasi Puisi
Puisi tercipta untuk dibaca, karenanya membaca dan puisi bagai dua sisi keping mata uang. Pembacaan diperlukan karena puisi mengandung sistem kode yang rumit dan kompleks. Ada kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. Untuk memahami sebuah puisi, maka pengetahuan akan ketiga kode ini sangat diperlukan.
Musikalisasi puisi pun harus beranjak dari konsep pembacaan ini. Pembacaan yang diintegrasikan dengan nada dan melodi dapat memperkuat suasana puisi, memperjelas makna dan ikut membantu membentuk karakter puisi itu sendiri. Karena itu, dalam kegiatannya, jangan memaksakan totalitas puisi menjadi lagu, jika memang dapat merusak, bahkan menghancurkan puisi itu sendiri.
Banyak bagian puisi hanya akan kuat kalau dibacakan, yang justru akan hancur kalau dilagukan. Misalnya tempo dan negasi.
Tempo dalam puisi berfungsi untuk mendapat efek, dan negasi (saat diam) berfungsi untuk menciptakan suasana kontemplatif, sugestif dan aperseptif dalam sebuah puisi. Dalam pembacaan puisi, negasi juga bisa membantu seorang pembaca untuk improvisasi, jika mengalami “habis napas”. Dalam satu bait puisi dapat dimungkinkan terdapat beberapa tempo yang berbeda, dan bisa terjadi beberapa kali perubahan negasi.
Sementara pada lagu, negasi tidak ada. Persamaan istilah yang mungkin mendekati adalah kadens. Pada lagu kadens adalah jeda antara satu frase dengan frase berikutnya, bait satu ke bait berikutnya, atau saat menuju refrain dan fading. Sedangkan tempo pada lagu dikandung oleh satu konstruksi bait, yang ditentukan kecepatan gerak pulsa dalam tiap-tiap notasi. Namun, keseluruhan lagu tersebut dapat pula lebih dahulu ditentukan temponya, seperti adanya istilah-istilah forte, piano forte, allegro, adagia dan sebagainya.
Tempo dan kadens pada lagu umumnya bersifat permanen dan telah ditentukan sebelumnya oleh pencipta lagu tersebut. Sedangkan, tempo dan negasi pada puisi dipengaruhi oleh dua hal, pertama suasana asli puisi dan kedua ditentukan oleh situasi apresiasi.
Tempo dan negasi adalah dua ciri khas membaca puisi yang sulit untuk dilagukan. Jika pun dipaksa untuk dilagkan, maka dapat terjadi disharmoni irama lagu itu sendiri. Karena itu, dalam kegiatan musikalisasi puisi, bait dan bagian-bagiannya atau beberapa larik dalam bait jika memiliki tempo dan negasi yang ketat, maka pada bagian ini disarankan untuk tetap dibacakan, tidak dilagukan. (Sebagai modifikasinya dan improvisasi, pada bagian ini diisi saja dengan bunyi alat musik).
Selain tempo dan negasi, enjambemen puisi merupakan hambatan tersendiri dalam musikalisasi puisi. Enjambemen adalah pemenggalan baris dan hubungan antara baris. Dengan adanya enjambemen ini, maka pemenggalan baris-baris puisi oleh penyairnya menentukan makna puisi. Banyak puisi yang secara tipografik tidak menggunakan tanda baca atau tidak mengenal huruf kapital, hingga menjadi kesulitan tersendiri dalam menentukan enjambemen suatu puisi. Suatu tindakan yang sangat tidak apresiatif, jika kita mengorbankan enjambemen sebuah puisi, atau tidak mengindahkannya dalam kegiatan musikalisasi puisi, demi harmonisasi irama lagu.
Puisi harus tetap puisi. Musikalisasi puisi harus tetap menghormati puisi sebagai teks sastra, tidak bertujuan mengubahnya sebagai teks lagu. Puisi dasarnya tidak ditujukan sebagai teks lagu, maka banyak puisi memiliki peluang yang kecil untuk dapat dilagukan. Teks puisi diciptakan oleh penyairnya pada hakikatnya adalah untuk dibaca, sedangkan teks lagu dibuat memang dengan tujuan untuk dilagukan.
Tan Lio Ie menyatakan, jangan menjadikan puisi subordinat dalam musikalisasi puisi. Pernyataan benar, karena banyak keterbatasan dalam memusikalisasikan puisi. Jangan mengorbankan puisi demi menjadi lagu, walaupun menjadi lagu yang baik sekalipun, namun merusak puisi itu
MENYUSUN ULANG KONVENSI DI SEKITAR MUSIKALISASI PUISI
Membaca Puisi Diiringi Alat Musik Bukan Musikalisasi Puisi
Pemikiran ini mungkin tidak bisa begitu dipaksakan. Dalam Materi Pelatihan Bahasa dan Sastra Indonesia Kurikulum Berbasis Kompetensi dijelaskan, bahwa kegiatan membaca puisi diiringi alat musik termasuk kegiatan musikalisasi puisi. Penjelasan ini, bagi para juri atau panitia lomba musikalisasi puisi, harus dipertimbangkan, agar tidak bersikukuh mengatakan membaca puisi diiringi alat musik bukan musikalisasi puisi.
Namun teta diperhatikan, bahwaalat musik tersebut tidak hanya sekedar mengiringi pembacaan puisi belaka, yang mungkin membuat puisi cuma jadi semakin enak dinikmati. Fredy Arsi, pemimpin Sanggar Matahari yang bekerja sama dengan Pusat Bahasa telah mengeluarkan album musikalisasi puisi, menyarankan agar musik atau alat musik di sini harus mampu berintegrasi dengan puisi, di mana musik yang dipergunakan memang diaransemen atau diimprovisasikan untuk dapat mengikuti irama dan musik yang ada pada puisi dan semakin memperjelas suasana puisi.
Lagu-lagu Ebiet G. Ade sebagai Contoh
Lagu-lagu Ebiet G. Ade sering dijadikan contoh sebagai hasil musikalisasi puisi. Ini jelas kurang tepat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Kita lupa, bahwa Ebiet G. Ade tidak mencipta puisi, tetapi dia memang mencipta lagu. Ebiet G. Ade tidak dapat dianggap sebagai penyair, dia adalah pencipta lagu dan penyanyi. Belum pernah ada, misalnya antologi puisi-puisi Ebiet G. Ade.
Benar, sebagian lagu-lagu yang dibawakan oleh Bimbo adalah hasil musikalisasi puisi, sebut saja lagu “Salju”, puisinya Wing Kardjo, “Balada Sekeping Taman Surga”, “Sajadah” atau “Rindu Kami Padamu Ya Rasul” merupakan puisi-puisi Taufik Ismail. Benar pula ada lagu-lagu Iwan Fals berangkat dari musikalisasi puisi, seperti “Kantata Takwa” dan “Sang Petualang” dan “Paman Doblang” adalah puisi-puisi Rendra, di mana dalam lagu ini kita mendengar Rendra membaca puisi, sementara lagu “Belajar Menghargai Hak Azasi Kawan” adalah musikalisasi puisi mbelingnya Remi Sylado. Sementara “Perahu Retak” karya Taufik Ismail dimusikalisasikan oleh Franky Sahilatua.
Benar pula, lagu-lagu Ebiet G. Ade sebagaimana juga lagu-lagu Leo Kristi, Ulli Sigar Rusady, Franky dan Jane, lagu-lagu Gombloh 1970-an dan juga sebagian lagu-lagu Katon Bagaskara memiliki kata-kata yang puitik, tetapi itu semua bukan puisi. Itu semua adalah lagu! Bahkan, banyak lagu-lagu puitik tersebut tidak begitu berhasil ketika dibacakan atau dideklamasikan, karena memang struktur dasarnya adalah untuk dilagukan, bukan dibaca.
Monotonitas Irama
Irama pada puisi yang dilagukan umumnya cenderung monoton. Produksi nada umumnya adalah staccato, dengan nada-nada pendek dan terputus-putus. Ini tidak saatnya lagi. Jangan ragu melagukan puisi dalam irama rock atau dangdut sekalipun, jika memang teks puisi memiliki peluang untuk itu.
Penutup; Solusi Akhir
Musikalisasi puisi sendiri hingga hari ini belumlah merupakan sebuah alat atau metode apresiasi karya sastra. Dia sebagaimana juga dramatisasi puisi merupakan kegiatan yang bersifat kreatif dan inovatof, sebagai ungkapan kita dalam mengeksresikan sebuah karya sastra secara bebas. Sebagai perbandingan, parafrase puisi pada awal-awalnya pun adalah sebuah teknik kreatif untuk memahami puisi, namun saat ini telah diterima sebagai metode atau teknik apresiasi yang fixed.
Namun, dalam sebuah kegiatan khusus, dalam lomba misalnya, perbedaan ini akan jadi konflik jika tidak terjembatani.
Dalam lomba musikalisasi puisi, perbedaan persepsi tentang musikalisasi wajib dipahami oleh panitia atau penyelenggara lomba, sehingga tidak total menyerahkannya saja kepada otoritas dewan juri, yang tentu memiliki persepsi sendiri apa itu musikalisasi puisi. Penentuan kriteria yang jelas tentang konsep musikalisasi puisi yang dipakai dapat meminimalisasikan konflik yang akan timbul. Penjelasan ini dapat dilakukan dalam pertemuan-teknis yang dilakukan beberapa hari menjelang lomba.
Jangan memberikan kesempatan kepada peserta lomba untuk menafsir kriteria lomba! Fakta, selain kriteria tertulis sendiri yang sering kabur dan multi-tafsir, bahwa dalam pertemuan-teknis (technical meeting) sebelum lomba, lazim yang dilakukan oleh panitia hanyalah penentuan nomor urut tampil, langka ditemui dalam pertemuan teknis, panitia beserta dewan juri memberikan penjelasan tentang kriteria yang akan dipergunakan.
sumber: http://malaikatpararoh.wordpress.com/materi-sastra/memahami-musikalisasi-puisi/
Langganan:
Postingan (Atom)